Musibah Ledakan Gas LPG di RT 05 RW 02 Warnasari, Korban Belum Terima Bantuan

Musibah Ledakan Gas LPG  di RT 05 RW 02 Warnasari, Korban Belum Terima Bantuan

Cilegon, (Beritain) – Empat warga satu keluarga di Lingkungan Kramat Jati RT 05 RW 02, Kelurahan Warnasari, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, mengalami luka bakar korban di duga akibat insiden kebocoran gas elpiji 3 kg yang memicu ledakan disertai semburan api saat sedang memasak, Rabu (27/5/2026) sekitar pukul 17.30 WIB.

Peristiwa tersebut menyebabkan keempat korban mengalami luka bakar di bagian wajah, tangan, dan kaki. Seluruh korban kemudian dilarikan ke RS Hermina Cilegon untuk mendapatkan penanganan medis intensif, termasuk tindakan operasi.

Adapun para korban yakni Ruihah (60) yang mengalami luka bakar paling parah di bagian wajah, tangan, dan kaki, serta tiga korban lainnya yaitu Aditya, Renah, dan satu anggota keluarga lain yang juga mengalami luka bakar di bagian tangan dan kaki.

Perwakilan keluarga korban, Vivi, yang juga sebagai wartawan di Cilegon, menjelaskan bahwa insiden tersebut diduga terjadi kerusakan pada kompor (ngadat) dan kemudian gas elpiji mampet sehingga mengakibatkan kompor yang hendak di nyalakan mengeluarkan gas hingga terjadi ledakan disertai semburan api.

“Ledakan dan semburan api terjadi dari kompor yang hendak di nyalakan, karena awal nya kompor itu udah ngadat, kebetulan ibu saya yang utak-atik di temenin ade, kompor itu lagi di pake masak keluarga di hari lebaran tiba-tiba muncul suara ledakan disertai semburan api saat kejadian,” kata Vivi, Jumat (5/6/2026).

Ia menyampaikan hingga saat ini seluruh korban masih menjalani perawatan intensif pasca operasi akibat luka bakar yang cukup serius.Selain itu, ia menyayangkan belum adanya perhatian dari pemerintah daerah sejak kejadian tersebut hingga saat ini.

“Sampai saat ini orang tua saya belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. Dari kejadian sampai sekarang belum ada yang datang menjenguk,” ujarnya.

Vivi menambahkan, keluarga saat ini menghadapi beban biaya pengobatan yang cukup besar setelah korban menjalani perawatan intensif selama sekitar tujuh hari di Rumah Sakit.“Kebutuhan berobat sekarang ini tidak sedikit. Sementara keluarga fokus pada proses kesembuhan, sehingga sangat membutuhkan bantuan dan perhatian,” katanya.

Ia berharap adanya perhatian serta bantuan dari pemerintah maupun pihak terkait untuk meringankan beban biaya pengobatan para korban. (Sari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *